Candida albicans
Lingkungan rongga mulut terdiri dari berbagai jenis mikroorganisme. Jumlah mikroorganisme tersebut meningkat selama tidur dan akan menurun setelah gosok gigi. Secara mikroskopis jumlah mikroorganisme dalam saliva berkisar antara 43 X 106 – 5,5 X 109 per milimeter, dengan rata-rata 750 X 106 permilimeter, termasuk di dalamnya golongan Candida.
Candida albicans merupakan jamur yang bersifat opportunistic dan menghasilkan 70 jenis toxin. Jamur ini dapat ditemukan pada rongga mulut orang normal sekitar 40%-60%. Francois Valleix merupakan orang pertama yang menemukan infeksi Candida di dalam rongga mulut sebagai thrush pada tahun 1836 . Kemudian, pada tahun 1923 Berhout memberi nama mikroorganisme tersebut Candida.
Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Subphylum : Saccharomycotina
Class : Saccharomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Family : Saccharomycetaceae
Genus : Candida
Spesies : Candida albicans
Sinonim : Candida stellatoidea dan Oidium albicans
Morfologi
Ada dua bentuk jamur Candida albicans yaitu :
1. Sel ragi : berupa sel berbentuk bulat, lonjong atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5 μm X 3-6 μm hingga 2-5,5 X 5-28.
2. Hifa : berbentuk sel panjang dengan banyak blastospora di sekitar septum. Blastospora dapat berkembang menjadi klamidospora yang berdinding tebal dengan diameter 8-12 μm.
Candida albicans merupakan organisme anaerob fakultatif yang mampu melakukan metabolisme sel baik dalam suasana anaerob maupun aerob. Jamur ini tumbuh pada suhu 28oC - 37oC dengan pH antara 4,5-6,5. Proses peragian pada Candida albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob. Jamur ini meragikan glukosa, maltosa dan sukrosa yang menghasilkan asam dan gas.
Candida albicans mempunyai struktur dinding sel yang kompleks, tebalnya 100 sampai 400 nm. Komposisi primer terdiri dari glucan (47-60%), mannoprotein (15,2%-30%) dan chitin (1-7%). Fungsi utama dinding sel tersebut adalah untuk memberi bentuk pada sel dan melindungi sel ragi dari lingkungannya. Selain itu, berperan pula dalam proses penempelan, kolonisasi serta bersifat antigenik.
Oral Candidiasis
Penyakit yang disebabkan karena Candida albicans disebut candidosis atau candidiasis. Prevalensi candidiasis pada perokok sebesar 70% sedangkan pada pemakai gigi tiruan sebagian lepasan ditemukan sebesar 11-67%. Pada orang sehat, Candida albicans tidak akan menyebabkan infeksi karena terdapat keseimbangan antara jamur dan bakteri di rongga mulut. Infeksi akan timbul apabila terdapat faktor lokal maupun sistemik yang memungkinkan reproduksi dan invasi jamur ini.
Faktor-faktor predisposisi oral candidiasis adalah sebagai berikut :
1. Faktor lokal, meliputi :
A. Oral hygiene
B. Menurunnya sekresi saliva
C. Menurunnya pH rongga mulut
D. Iritasi akibat pemakaian gigi tiruan yang kurang baik
E. trauma oklusi dan maserasi.
2. Faktor sistemik, meliputi :
A. Diet tinggi karbohidrat
B. Pemakaian antibiotik luas dalam waktu yang tidak rasional
C. Pemakaian obat kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama
D. Pasien Immunodefisiensi
E. Penderita yang menerima anticancer chemoterapeutic dalam jangka waktu yang lama
F. Infeksi sistemik jangka panjang, Diabetes Melitus dan kehamilan
G. Malnutrisi.
Oral candidiasis dapat bersifat akut dan kronis. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diklasifikasikan menjadi:
A. Thrush (acute pseudomembranous candidiasis)
Thrush merupakan suatu infeksi akibat pertumbuhan Candida albicans yang berlebihan dan bersifat opportunistik. Biasanya terdapat pada bayi dan anak-anak. Pada bayi lesi oral mulai timbul antara 6-10 hari setelah kelahiran. Lesi tersebut disebabkan karena kontak dengan vagina ibu yang telah terinfeksi Candida albicans sebelumnya. Lesi timbul sebagai bercak putih atau putih kebiru-biruan dengan konsistensi lunak.
Pada orang dewasa lesi banyak timbul pada palatum, retromolar dan muccoobuccal fold. Gejala yang timbul berupa rasa terbakar, mulut kering, pengecapan berkurang serta rasa tidak nyaman terutama terhadap makanan pedas. Gambaran klinisnya berupa plak putih kebiruan disertai inflamasi, eritem dan nyeri. Lesi timbul dalam waktu yang singkat dan terlokalisir. Akibat lanjut dari thrush ini dapat melibatkan pangkal tenggorokan, kerongkongan dan paru-paru.
B. Acute atrophic candidiasis
Acute atrophic candidiasis disebut juga antibiotic sore mouth. Secara klinis permukaan mukosa terlihat merah dan kasar, biasanya disertai gejala sakit atau rasa terbakar, rasa kecap berkurang. Lesi biasanya terdapat dimana saja di rongga mulut tetapi yang paling sering adalah di lidah.
Infeksi jamur ini merupakan akibat dari ketidak-seimbangan dalam ekosistem oral antara Lactobacillus acidophilus dan Candida albicans. Antibiotik yang diterima oleh pasien mengurangi populasi Lactobacillus dan memungkinkan organisme candida tumbuh subur. Infeksi tersebut membuat daerah-daerah permukaan mukosa mengelupas dan tampak sebagai bercak-bercak merah difus yang tidak menimbul. Keluhan utama yang paling sering adalah nyeri dan rasa terbakar. Lesi yang mengenai mukosa pipi, bibir, dan orofaring seringkali menunjukkan adanya pemakaian antibiotik secara sistemik, sedangkan merahnya lidah dan palatum lebih sering terjadi setelah penggunaan antibiotik isap. Jika mengenai lidah, lesi terjadi pada permukaan tanpa papilla-papila filiformis.
C. Chronic atrophic candidiasis
Chronic atrophic candidiasis mempunyai nama lain yaitu denture stomatitis atau denture sore mouth. Faktor predisposisi terjadinya candidiasis tipe ini adalah trauma kronis, misalnya trauma kronis akibat pemakaian gigi tiruan yang dapat menyebabkan invasi jamur ke dalam jaringan.
Chronic atrophic candidiasis melibatkan 3 tahap perubahan mukosa. Lesi yang paling dini adalah daerah-daerah hyperemia sebesar ujung jarum, berwarna merah, dan terbatas di muara kelenjar-kelenjar saliva minor palatal. Tahap kedua, jika berlanjut akan menjadi eritema difus pada palatum keras yang kadang kadang disertai dengan pengelupasan epitel. Tahap ketiga adalah hyperplasia papilla yang dapat menyeluruh atau terbatas pada daerah-daerah “relief”.
D. Cronic hyperplastic candidiasis
Cronic hyperplastic candidiasis disebut juga sebagai “ candidal leukoplakia“ . Gambaran klinisnya berupa plak putih yang tidak dapat dikerok. Keadaan ini terjadi diduga akibat invasi miselium ke lapisan yang lebih dalam pada mukosa rongga mulut, sehingga dapat berproliferasi, sebagai respon jaringan inang. Candidiasis tipe ini sering ditemukan pada mukosa bukal, bibir dan lidah. Lesi menetap tanpa gejala dengan penderita terbanyak adalah laki-laki perokok berat.
Faktor-faktor predisposisinya adalah Iritasi kronis, kebersihan mulut yang jelek dan serostomia. Lesi tersebut selalu mempunyai tepi menimbul yang tegas dan permukaan putih berbintil-bintil dengan beberapa daerah merah; karenanya keadaan tersebut dapat mirip dengan leukoplakia atau eritroleukoplakia. Komponen eritematosus yang berpencar merupakan akibat dari kerusakan lapisan sel mukosa.


Name: Atikah Dwi Septiah
Tikadent has been my official personal blogging site since 2010. I normally don't change my URL names unless I have to for another reasons. It first started off with "Dental Studio", and I blogged for about 2 years. I think it's more for reblogging ideas and images. I hope the content of my blog can help you and give some information for you ^^
Travel to Japan
